Sejarah Nabi Muhammad SAW (ed.03)

Aturan Baru di Mekah
Setelah Rasul Allah saaw memasuki Makkah dan beristirahat, beliau meminta kepada Utsman bin Thalhah untuk memberinya kunci Ka’bah, karena selama ini dia lah pemegang kunci Ka’bah yang dia terima secara turun temurun. Kemudian Nabi membuka pintu Ka’bah dan memasukinya diikuti oleh beberapa sahabat. Kemudian Nabi meminta agar pintu Ka’bah ditutup, dan Khalid bin Walid menjaganya di luar. Pada masa itu dinding Ka’bah di bagian dalam penuh dengan gambar para Nabi, malaikat dan sebagainya. Rasul Allah saaw meminta agar semua itu di bersihkan lalu beliau membasuh dinding Ka’bah bagian dalam dengan air zamzam.

Patung-patung yang berada di dalam Ka’bah pun dihancurkan oleh Rasul Allah saaw. Imam Ali as ikut membantu Rasul Allah saaw dalam menghancurkan patung-patung ini. Ketika Rasul Allah akan menghancurkan patung yang terbesar, beliau perlu pijakan untuk mencapai tempat yang lebih tinggi. Untuk itu beliau meminta Imam Ali agar mengangkat beliau di atas bahu. Ketika Rasul Allah berusaha berdiri di atas bahu Imam Ali as, Imam Ali merasakan beban yang sangat berat dari tubuh Rasul Allah saaw, sehingga beliau tidak mampu berdiri mengangkat tubuh Rasul Allah dengan bahunya. Dalam hal ini Imam Ali sendiri mengatakan bahwa beban risalah yang diemban oleh Rasul Allah membuat tubuh beliau sedemikian berat.

Wal hasil apa pun sebabnya, yang jelas dalam sejarah dikatakan bahwa ketika Imam Ali as tidak mampu mengangkat tubuh Rasul Allah saaw, maka Rasul Allah meminta agar Imam Ali yang naik ke bahu beliau untuk menjatuhkan berhala terbesar sesembahan kaum musyrikin Qureisy itu. Jadilah Imam Ali as naik ke atas bahu Rasul Allah saaw dan menjatuhkan berhala besar yang pecah berkeping ketika menimpa tanah. Kemudian Rasul Allah saaw berdiri di depan pintu Ka’bah dan mengucapkan kata-kata berikut ini :
الحمد للّه الذي صدق وعده ونصر عبده وهزم الاَحزاب وحده
Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya, dan menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan (kuffar musyrikin) sendirian”.

Kemudian beliau memandang kepada orang-orang Makkah yang menyaksikan beliau menghancurkan berhala-berhala itu. Beliau bertanya kepada mereka, “Apa yang akan kalian katakan dan bagaimana menurut kalian?” Mereka menjawab, “Kami mengatakan yang baik dan berpendapat dengan pendapat yang baik pula. Engkau adalah saudara kami yang mulia, dan anak saudara kami yang mulia, dan Engkau telah mencapai kemenangan.” Rasul Allah saaw menimpali ucapan mereka dengan mengatakan, “Sedangkan aku mengatakan kepada kalian sebagaimana yang dikatakan oleh Saudaraku Yusuf,
قالَ لا تَثْريبَعَلَيْكُمُ اليَومَ يَغْفِرُ اللّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرّاحِمين
“Dia (Yusuf) berkata, “Hari ini tidak ada celaan atas kalian. Mudah-mudhaan Allah mengampuni kalian, dan Dialah yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang”. (Yusuf: 92)
Kemudian Rasul Allah saaw juga mengatakan, “Kalian adalah seburuk-buruk tetangga Nabi. Kalian telah mendustakan, mengusir, dan mengganggu. Tetapi kalianbelum puas dengan semua itu, lalu kalian memerangiku pula. Pergilah kalian, dankalian adalah orang-orang yang dimerdekakan.”

Setelah menunaikan salat Dhuhur, Rasul Allah saaw menyerahkan kembali kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah. Hal ini menunjukkan bahwa beliau sangat memegang teguh amanat kepada para pemiliknya. Kemudian Rasul Allah saaw menghapus semua jabatan yang berkaitan dengan Ka’bah yang berlaku di masa jahiliyah, kecuali yang bermanfaat bagi umat manusia, seperti pemegang kunci Ka’bah dan penjaga tirai Ka’bah, juga petugas pembagi air untuk para hujjaj.

Dalam kesempatan pertemuan dengan kaum kerabatnya, teramsuk BaniHasyim danBani Abdul Muttalib, Rasul Allah saaw menjelaskan kepada mereka bahwa ikatan kekeluargaan yang ada diantara mereka tidak boleh membuat mereka merasa lebih mulia daripada orang lain, atau menjadikannya sebagai tameng untuk berbuat semena-mena dan melanggar yang berlaku dalam pemerintahan Islam.

Di hadapan kaum kerabatnya ini, Rasul Allah saaw bersabda sebagai berikut, “Wahai Bani Hasyim, Wahai Bani Abdul Muttalib, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, dan aku sangat mengasihi kalian. Akan tetapi janganlah kalian mengatakan “Muhammad dari kami”. Demi Allah, para pencintaku, baik dari kalian atau dari selain kalian, tak lain adalah orang-orang yang bertakwa. Jangan sampai kalian datang kepadaku di hari kiamat dalam keadaan memanggul dunia, sementara orang lain datang memanggul akherat. Ketahuilah bahwa aku tidak dapat berbuat apa dengan apa yang ada antara aku dan kalian, tidak pula antara Allah swt dan kalian. Bagiku amalku dan bagi kalian amal kalian.”

Kemudian, dalam khutbah yangbeliau sampaikan di depan sejumlah besar penduduk Makkah, Rasul Allah saaw mengajak semuanya untuk meninggalkan adat kebiasaan buruk di masa jahiliyah. Diantaranya ialah, watak suka menyombongkan nasab atau garis keturunan, etnis Arab atau kearaban, dendam kesumat dan perang berkepanjangan, dan kebiasaan-kebiasaan buruk lain. Semantara itu beliau menumbuhkan nilai-nilai mulia diantara emreka, seperti persamaan hak dan kedudukan diantara manusia, persaudaraan Islam, kasih sayang terhadap kaum lemah termasuk anak yatim dan kaum perempuan.

Sebelum ini telah disebutkan bahwa Rasul Allah menjatuhkan vonis mati kepada 10 orang penduduk Makkah dan meminta agar mereka dibunuh dimanapun mereka berada, bahkan jika mereka bersembunyi di balik kain Ka’bah. Akan tetapi kira-kira separuh dari sepuluh orang ini pada akhirnya dimaafkan juga oleh Rasul Allah saaw, karena permohonan beberapa sahabat, atau kerabat orang-orang itu, yang sudah masuk Islam sebelumnya.

Selain di dalam Ka’bah, kaum musyrikin Qureisy juga memiliki rumah-rumah ibadah yang penuh dengan berbagai macam berhala di dalamnya. Rasul Allah saaw, juga memerintahkan agar rumah-rumah ibadah tersebut dibersihkan dari patung. Beliau juga memerintahkan kepada penduduk Makah yang memiliki patung agar menghancurkannya.

Demikianlah Rasul Allah saaw setelah menaklukkan Makkah, mengislamkan seluruh penduduknya dan membersihkan kota ini dari semua berhala, beliau pun mengatur dan merapikan pemerintahannya dengan menunjuk orang-orang tertentu untuk menjalankan tugas-tugas sosial, politik, keamanan dan ketatanegaraan.

Perang Hunain
Dalam penaklukan kota suci Makkah Al-Mukarramah, dimana setelah Nabi dan muslimin menguasai penuh kota tersebut, maka sekitar 15 hari kemudian, beliau menyusun pasukan dalam jumlah 12.000 tentara, dan beliu pimpin sendiri menuju ke kabilah Hawazin dan Tsaqif, yang memberontak kepada beliau. Jumlah pasukan muslimin sedemikian besar karena setelah penduduk Makkah menyatakan menerima Islam, maka bergabunglah kaum pemuda Makkah ke dalam tentara muslimin. Bahkan jumlah besar pasukan ini sempat menimbulkan kebanggaan di kalangan muslimin sehingga mereka sempat melalaikan peran dan pertolongan Allah swt, dan menganggap remeh musuh yang bakal mereka hadapi.

Kondisi mereka seperti inilah yang disinggung di dalam Al-Quran Surat At-Taubah Ayat 25, sebagai berikut:

لقد نصركم الله في مواطن كثيرة ویوم حنين اذ اعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم من الله شیا وضاقت عليكم الارض بما رحبت ثم وليتم مدبرين

Yang artinya, “Allah telah menolong kalian dalam banyak medan pertempuran, dan dalam perang Hunain, ketika kalian merasa bangga dengan jumah kalian yang besar, tetapi hal itu tidak berguna apa pun bagi kalian. Dan bumi pun menjadi sempit bagi kalian, padahal ia luas, kemudian kalian melarikan diri dari medan perang.”

Secara singkat peristiwa perang Hunain itu, sebagaimana disebutkan dalam berbagai kitab sejarah, terjadi dalam dua tahap. Pada tahap pertama, tentara muslimin menghadapi kekalahan karena tipu daya dan taktik perang yang digunakan oleh musuh. Sementara sebagaimana disinggung oleh Ayat tersebut di atas, pasukan muslimin kurang waspada karena mereka merasa bangga dan hanya mengandalkan kekuatan serta jumlah pasukan yang besar.

Pada tahap pertama, pasukan muslimin dari Bani Sulaim di bawah pimpinan Khalid bin Walid, yang pertama kali masuk ke daerah lawan, terjebak dalam serangan mendadak oleh musuh yang bersembunyi di atas bukit yang kemudian melempari pasukan muslimin dengan batu, anak panah dan tombak. Akibat serangan mendadak ini jatuh korban jiwa dan luka dari pasukan muslimin, sehingga mereka berserabutan lalu sebagiannya melarikan diri.
Melihat kekacauan pasukan muslimin tersebut Rasul Allah saaw memerintahkan Abbas bin Abdulmuttalib untuk menyeru mereka agar mereka yang melarikan diri itu kembali kepada beliau. Mendengar teriakan Sayyidina Abbas tersebut, kembali tumbuh semangat di hati mereka, lalu mereka pun kembali ke pada Nabi saaw. Dengan demikian Rasul pun dapat menyusun lagi kekuatan,lalu menyerang posisi musuh. Serangan balasan pasukan muslimin ini berhasil menimpakan korban dan kerugian cukup besar di pihak lawan sehingga memaksa mereka lari meninggalkan posisi mereka. Mereka juga meninggalkan banyak bekal dan peralatan perang, juga wanita dan anak-anak mereka yang tadinya sengaja disertakan bersama mereka untuk membangkitkan semangat tempur.
Diketahui kemudian bahwa meletakkan anak istri di belakang pasukan yang bertempur, merupakan taktik kabilah Hawazin, dan kabilah Arab lain, untuk membangkitkan semangat tempur dan mencegah mereka melarikan diri dari medan perang. Akibatnya, ketika pada akhirnya mereka lari meninggalkan medan perang, maka kaum wanita dan anak-anak ini tertinggal sehingga menjadi tawanan. Pada perang kali ini pun, secara keseluruhan, pasukan muslimin menahan sebanyak enam ribu orang dari pihak musuh, selain pampasan perang lain berupa hewan dan peralatan perang, serta emas perak sebanyak lebih dari 3300 kilogram.
Sedangkan dari pasukan muslimin, delapan orang syahid dan sejumlah lainnya cidera. Setelah kabilah Hawazin mengalami kekalahan, Rasul Allah saaw pun mempersiapkan pasukannya untuk memerangi kabilah Tsaqif, yang bersama-sama kabilah Hawazin memerangi muslimin. Kabilah Tsaqif, setelah mengalami kekalahan, maka kabilah Tsaqif yang membantu Hawazin pun lari menuju ke kampung halaman mereka di Thaif. Mereka bersembunyi di balik benteng-benteng mereka yang terkenal kokoh dengan dinding-dinding yang tinggi. Bersembunyi di balik benteng-bentengnya ini, mereka melempari dengan batu dan memanahi pasukan muslimin, sehingga tidak dapat mendekat ke arah mereka.
Kemudian Salman Al-Farisi, mengusulkan agar membuat “manjaniq”, meriam kuno untuk melemparkan batu berukuran besar ke jarak yang jauh. Disebutkan dalam sejarah bahwa Salman sendirilah, dibantu oleh yang lain, yang membuat manjaniq ini, dan mengajarkan kepada muslimin cara-cara penggunaannya. Akan tetapi hal itu pun tidak mendatangkan banyak kemajuan bagi pasukan muslimin, karena kabilah Tsaqif masih tetap bertahan di dalam benteng dan di balik pintu-pintu gerbang mereka yang masih tetap kokoh.

Pasukan muslimin tetap hanya dapat mengepung tanpa hasil apa pun, dan hal itu berjalan selama berhari-hari. Berbagai taktik telah dilakukan oleh Rasul Allah saaw untuk membuat kabilah Tsaqif menyerah. Diantara taktik beliau itu ialah bahwa beliau mengeluarkan pengumuman, barang siapa yang menyerahkan diri kepada beliau, maka orang itu akan dibebaskan dan tidak akan ditawan. Pernyataan Rasul yang demikian ini berpengaruh pada sebagian pasukan kabilah Tsaqif, yang keluar dari meneyrahkan diri kepada Rasul Allah.

Dari mereka yang baru menyerah inilah Rasul Allah saaw mendapat informasi tentang keadaan di dalam benteng. Mereka mengatakan bahwa pihak musuh memiliki bekal yang sangat banyak sehingga akan mampu bertahan meskipun dikepung selama satu tahun. Untuk itulah, dan atas dasar berbagai pertimbangan, Rasul Allah saaw memerintahkan agar pasukannya meninggalkan medan perang.

Beberapa alasan Rasul Allah saaw meninggalkan medan perang tersebut ialah:
1-Tidak ada kemajuan yang diperoleh karena kabilah Tsaqif dan beberapa suku Arab lain yang membantunya, hanya bersembunyi di balik benteng.
2-Pasukan muslimin sudah lelah karena perang sebelumnya menghadapi kabilah Hawazin.
3-Bulan Syawal sudah habis dan masuk bulan DzulQa’dah yang merupakan awal bulan suci (asyhurul hurum) yang dilaranag berperang di dalamnya.
4-Musim **** juga sudah dekat. Dan sejak penaklukan kota Makkah, maka pengelolaan pelaksanaan ibadah **** berada di tangan muslimin.

Akan tetapi Rasul Allah saaw tetap melancarkan dakwah Islam kepada kabilah Tsaqif dan semua suku Arab yang masih belum masuk Islam, sampai akhirnya mereka semua bersedia menerima agama Islam atau menyatakan tunduk kepada pemerintahan Islam.

Nabi Sang Pemaaf
Setelah perang Hunain dan Thaif, yang mendatangkan kemenangan sangat besar bagi muslimin, terutama dari segi peolehan pampasan dan tawanan perang termasuk kaum wanita dan anak-anak, Rasul Allah saaw berserta pasukannya kembali ke Ji’ranah, tempat para tawanan dan pampasan perang Hunain disimpan dan dikumpulkan. Beliau tinggal di Ji’ranah selama 13 hari.

Sebagaimana diketahui, bahwa pada masa kecilnya, Rasul Allah saaw di susui dan hidup selama lima tahun bersama Bani Sa’ad yang merupakan bagian dari kabilah Hawazin. Beliau disusui oleh seorang perempuan Bani Sa’ad bernama Halimah As-Sa’diyyah. Bani Sa’ad ini ikut berperang bersama Kabilah Hawazin melawan pasukan muslimin. Dan banyak dari kaum perempuan dan anak-anak mereka yang ditawanan oleh pasukan muslimin, selain sejumlah harta kekayaan mereka.
Karena para tokoh Bani Sa’ad mengenal kemuliaan akhlak dan kepribadian Nabi saaw, maka mereka yakin bahwa jika mereka meminta kepada Nabi agar membebaskan kaum perempuan dan anak-anak mereka, melihat bahwa sebenarnya telah terjalin persaudaraan diantara mereka, lewat penyusuan tersebut, maka Nabi pasti akan memenuhi permintaan mereka.

Untuk itu Bani Sa’ad mengutus tokoh-tokoh mereka yang telah memeluk agama Islam, untuk menemui Nabi saaw, dan memohon kepada beliau agar membebaskan kaum perempuan dan anak-anak mereka. Rasul Allah saaw pun, dengan kebijaksanaan yang tinggi, pada akhirnya membebaskan mereka semua. Perbuatan Nabi tersebut menanamkan pengaruh posistif yang sangat dalam di hati Bani Sa’ad bahkan seluruh kabilah Hawazin, sehingga lebih banyak lagi diantara mereka yang menyatakan Islam dan iman serta ketaatan kepada Rasul Allah saaw.

Perang Tabuk
Peperangan penting yang terjadi setelah itu ialah perang Tabuk. Tabuk ialah sebuah benteng yang kuat dan tinggi, dibangun di sebuah kawasan perbatasan Syam, atau Suriah sekarang. Pada zaman itu Suriah merupakan tanah jajahan imperium Romawi Timur. Penduduk Syam saat itu beragama Kristen, dan para pejabat pemerintahannya ditunjuk oleh para penguasa Romawi.

Penyebaran agama Islam yang sangat cepat di Tanah Arab dan kemenangan umat muslimin dalam berbagai peperangan, membuat para penguasa Syam takut, sehingga mendorong mereka untuk menyusun strategi. Mereka berpikir bahwa sebelum Islam semakin menyebar dan memperoleh kekuatan, maka mereka harus membasminya terlebih dahulu. Rupanya strategi preemtif yang sekarang ini diterapkan oleh AS, sudah dikenal sejak zaman dulu.

Persiapan pasukan Syam yang didukung oleh pasukan imperium Romawi dan niat mereka untuk melancarkan serangan preemtif terhadap muslimin ini telah didengar oleh Rasul Allah saaw, melalui berita yang dibawa oleh para pedagang Arab yang jalur perdagangan mereka itu adalah Madinah - Syam. Beliaupun merasa harus segera mempersiapkan pasukan dalam jumlah besar untuk menghadang dan memberi pelajaran kepada pasukan Syam dukungan Romawi itu, selain tentu saja demi menjaga dan mempertahankan pemerintahan Islam yang berhasil beliau tegakkan di jazirah Arab.

Ketika Rasul Allah saaw mengajak umat muslimin Makkah dan Madinah untuk ikut dalam peperangan, sebagian dari mereka menolak dengan memberikan berbagai macam alasan. Hal ini disinggung di dalam Al-Quran Surat At-Taubah Ayat 49, juga Surat yang sama Ayat 81 dan 82. Pada saat mempersiapkan pasukan untuk menghadapi serangan dari Syam ini, Rasul Allah saaw banyak menghadapi usaha pengkhianatan dari kaum munafikin. Akan tetapi berkat kejelian dan ketegasan beliau, semua usaha tersebut dapat beliau atasi dengan baik.

Perang Tabuk ini termasuk diantara peperangan yang sangat penting, meskipun kemudian peperangan ini tidak terjadi karena pihak musuh merasa takut dan gentar melihat kebesaran dan keberanian pasukan muslimin. Mereka bersembunyi di balik pintu gerbang dan di dalam kota. Oleh karena itu Rasul Allah saaw hanya dapat menemui beberapa kabilah di sekitar Tabuk yang mereka itu beragama Kristen dan takluk di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi. Rasul Allah mengadakan perjanjian damai dan tidak saling menyerang dengan kabilah-kabilah tersebut, sehingga beliau tidak merasa terancam oleh kabilah-kabilah ini.


Setelah itu beliau kembali ke Madinah.
Ketika akan berangkat menuju Tabuk Rasul Allah saaw sengaja tidak menyertakan Imam Ali as bersama beliau, akan tetapi meninggalkan beliau di Madinah. Rasul Allah saaw menyadari bahwa beliau akan meninggalkan Madinah dalam waktu yang sangat lama karena Tabuk kawasan yang paling jauh dibanding medang perang lain yang pernah beliau alami. Dan oleh karena menyadari adanya sekelompok munafikin yang menunggu kesempatan ketiadaan Nabi di Madinah dalam waktu yang lama, untuk membuat semacam kudeta, maka Rasul Allah saaw sengaja meninggalkan orang yang paling beliau percayai, yaitu Imam Ali as untuk menjaga Madinah dan seluruh kawasan Islam yang ada saat itu, yaitu Madinah, Makkah dan beberapa kawasan sekitarnya, dari usaha-usaha jahat munafikin.

Melihat Rasul Allah saaw meninggalkan Imam Ali as di Madinah, kaum munafikin merasa kecewa dan yakin bahwa dengan keberadaan Imam Ali di Madinah, tak mungkin mereka dapat melaksanakan rencana jahat mereka. untuk itu mereka menimbulkan isu-isu yang menyudutkan Imam Ali dengan harapan akan mendorong beliau untuk berangkat bersama Rasul Allah saaw, meninggalkan Madinah. Pada intinya isu-isu tersebut mengatakan bahwa Rasul Allah sudah tidak lagi memerlukan Ali dalam peperangannya, atau bahwa Ali-lah yang meminta untuk tinggal bersama kaum perempuan dan anak kecil di Madinah, karena perang kali ini sangat jauh, dilakukan di tengah musim panas, dan menghadapi musuh yang sangat tangguh.

Mendengar kasak-kusuk kaum munafikin tersebut, Imam Ali as berangkat mengejar rombongan Rasul Allah saaw dan berhasil menemui beliau di Juhfah berjarak beberapa kilo meter dari Madinah. Di situlah Imam Ali as menyampaikan kasak-kusuk kaum munafikin tersebut. Dan untuk membantahnya Rasul Allah saaw kembali mengeluarkan pernyataan yang sangat terkenal dan menjadi salah satu bukti kepemimpinan Imam Ali as setelah beliau saaw. Ucapan Nabi ini kemudian dikenal dengan hadits “manzilah”. Beliau berkata kepada Imam Ali:
أما تَرْضى يا عَليّ أنْ تَكُونَ مِنّي بِمنزلةِ هارونَ مِنْ مُوسى إلاّ أنَّه لا نبيَّ بعدي
”Apakah engkau tidak suka wahai Ali, bahwa engkau memiliki kedudukan terhadapku sama seperti kedudukan Harun terhadap Musa? Hanya saja tidak ada Nabi lagi setelahku.”

Perang Tabuk (2)

Perang Tabuk juga menyimpan kisah-kisah menarik tentang kemunafikan sejumlah orang yang mengaku sebagai sahabat Nabi, akan tetapi mereka sebenarnya adalah orang-orang munafik. Peristiwa perang ini berlangsung di saat Jazirah Arab sedang dipanggang musim panas yang sangat terik. Hari-hari sangat panjang dan lautan pasir menjadi sangat garang. Kebiasaan orang-orang saat itudi musim panas adalah banyak beritirahat di siang hari.

Rasulullah menyeru kepada semua kabilah bersiap-siap dengan pasukan yang sebesar mungkin. Orang-orang kaya dari kalangan Muslimin juga dimintanya supaya ikut serta dalam menyiapkan pasukan itu dengan harta yang ada pada mereka serta mengerahkan orang supaya sama-sama menggabungkan diri ke dalam pasukan itu. Seruan Rasulullah ini berarti ajakan untuk meninggalkan isteri, anak, dan harta-bendadi panas musim yang begitu dahsyat. Mereka harus mengarungi lautan tandus padang sahara, yang kering, tanpa air, kemudian harus pula menghadapi musuh kuat yang sudah mampu mengalahkan Kerajaan Persia.

Hati sebagian orang kaya itu sangat berat langkah dalam memenuhi panggilan Rasulullah. Mereka mulai mereka itu mencari-cari alasan, sambil berbisik-bisik
sesama mereka . Lebih jauh lagi, mereka mulai mencemooh ajakan Rasul yang mulia itu. Mereka akhirnya berdiam diri di rumah-rumah mereka secara sengaja. Ketika sekelompok orang-orang munafik mulai memprovokasi satu sama lain dengan mengatakan “Jangan kalian berangkat perang dalam udara panas seperti ini”. Turunlah firman Allah berikut ini,

Farihal mukhallafuna bi….

“Orang-orang tertinggal di belakang dan tidak ikut berperang itu merasa gembira dengan ketertinggalan mereka di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Merek berkata, "Jangan kalian berangkat perang dalam udara panas begini.' Katakanlah kepada mereka itu, 'Api neraka lebih panas lagi, jika saja kalian mengerti. Biarlah nanti mereka tertawa sedikit dan menangis lebih banyak sebagai balasan atas hasil perbuatan mereka." (Qur'an, surah at taubah ayat 81-82)

Di antara mereka, ada juga yang mencoba menghindari peperangan, namun tidak dengan terang-terangan seperti kaum munafik itu. Mereka itu sebenarnya telah terjebak kepada provokasi orang-orang munafik. Mereka sempat meminta izin kepada Rasulullah agar tidak perlu pergi berperang dengan alasan agar bisa menghindari fitnah. Akan tetapi, sebagaimana yang kemudian disampaikan oleh Rasul, Allah menilai bahwa permintaan izin merteka itu justru salah satu bentuk keterjebakan ke dalam fitnah. Simaklah ayat AL-Quran berikut ini.
Wa minhum man….
"Ada pula di antara mereka yang berkata: 'Ijinkanlah saya (tidak ikut serta) dan jangan kau jerumuskan saya ke dalam fitnah ini., Ketahuilah, mereka kini sudah terjatuh ke dalam ujian itu, dan bahwa neraka itu adalah tempat bagi orang-orang kafir." (Qur'an, 9:49)

Tentara Rasulullah akhirnya meneruskan perjalanan ke Tabuk. Sebenarnya berita tentang pasukan ini dan kekuatannya sudah sampai kepada pihak Rumawi. Inilah yang membuat pasukan Rumawi gentar. Oleh karena itu Setelah pihak Muslimin sampai di Tabuk dan Muhammad mengetahui pihak Rumawi menarik diri ke dalam benteng-benteng mereka, Rasul merasa tidak pada tempatnya untuk tetap mengejar mereka terus sampai ke dalam negeri mereka. Oleh karena itu, ia perinahkan kaum muslimin agar tetap tinggal di perbatasan

Ketika itulah Yohanna bin Ru'ba - seorang amir (penguasa) Aila yang tinggal di perbatasan oleh Nabi dikirimi surat supaya ia tunduk atau akan diserbu. Yohanna datang sendiri dengan memakai salib dari emas di dadanya. Ia datang dengan membawa hadiah dan menyatakan setia. Ia mengadakan perdamaian dengan Muhammad dan bersedia membayar jizya seperti yang juga dilakukan oleh pihak Jarba' dan Adhruh dengan membayar jizyah. Permintaan damai ini diterima oleh Rasulullah.

Sebagai tanda persetujuan atas perjanjian ini Muhammad memberikan hadiah kepada Yohanna berupa mantel tenunan Yaman disertai perhatian penuh kepadanya, setelah diperoleh persetujuan bahwa Aila akan membayar jizya sebesar 3000 dinar tiap tahun. Kemudian Rasulullah pun memerintahkan pasukan muslim pulang ke Madinah

Penyucian Mekah dari Syirik
Setelah perang Tabuk, peristiwa penting berikutnya yang terjadi pada kehidupan Rasulullah adalah perintah untuk membersihkan Masjidil Haram dari adat-adat jahiliyah. Pada tahun kesembilan hijriyah, menjelang datangnya musim ****, Rasulullah SAW mendapat wahyu dari Allah yang berisi pernyataan berlepas tangan dari kaum kafir. Wahyu tersebut adalah sepuluh ayat pertama surah Baraah atau Taubah. Diantara wahyu tersebut adalah pernyataan yang menybut kaum kafir sebagai orang-orang najis yang tidak diperkenankan memasuki masjidil Haram.
Sebagaimana yang diketahui, meski kota Mekah telah ditaklukkan dan seluruh berhala yang berada di dalam komplek masjidil haram telah dihancurkan, akan tetapi orang-orang kafir masih bebas melakukan tawaf dan umrah di sana dengan tata cara jahiliyah. Turunnya ayat-ayat pertama surah taubah adalah keputusan dari Allah ujntuk membersihkan Mekah dari segala hal yang berbau kemusyrikan.
Setelah ayat tersebut turun, Rasul memerintahkan Abu Bakar untuk membawa ayat itu dan membacakannya kepada semua yang berada di Mekah saat musim **** tiba. Sahabat Nabi itu dengan serta merta bertolak ke Mekah untuk menjalankan perintah terebut. Akan tetapi tak lama setelah Abu Bakar berangkat, Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengutus Ali ke Mekah menggantikan Abu Bakar. Ali-pun bertolak ke Mekah mengejar Abu Bakar. Kepadanya, Ali menyampaikan pesan Rasul dan mengambil alih amanat ayat itu untuk dibacakan di hadapan semua orang di musim ****.
Abu Bakar kembali ke Madinah dan mendatangi Rasul untuk menanyakan hal ini. Kepadanya Rasul bersabda, Allah telah mengutus Jibril kepadaku dan menyatakan bahwa hanya aku atau orang yang berasal dariku-lah yang berhak membacakan ayat baraah di Mekah. Dan orang itu adalah Ali.”
Dengan dibacakannya ayat-ayat suci tersebut di hadapan seluruh jemaah yang hadir pada musim **** saat itu, orang-orang kafir tidak lagi berhak memasuki komplek masjidil haram.
Hajjatul Wada' atau **** Perpisahan
Tahun ke sepuluh hijriyah, Rasulullah SAW bersama sekitar seratus ribu sahabatnya yang berasal dari berbagai penjuru Jazirah Arabia melaksanakan ibadah ****. Ibadah **** ini disebut dalam sejarah sebagai hajjatul wada’ atau hari perpisahan. Sebab, sepulangnya dari perjalanan ****, Rasulullah SAW jatuh sakit yang mengakhiri kehidupan beliau yang penuh berkah.
Ibadah **** ini menjadi momen yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Karena, umat menyaksikan tata cara ibadah **** yang diajarkan dalam agama Islam secara langsung dari pembawa risalah kenabian. Umat Islam melihat sendiri bagaimana Nabi bertawaf, sa’i, wukuf di padang Arafat, tinggal di mina, menyembelih korban dan memotong rambutnya.
Pada kesempatan itu, Nabi juga menyampaikan sebuah khotbah bersejarah yang menjelaskan segala permasalahan dalam Islam. Beliau mengingatkan kembali soal tauhid, ibadah, akhlak, sikap saling membantu antar sesama dan banyak hal lainnya.
Setelah selesai melaksanakan ibadah ****, Rasulullah SAW dan para jemaah **** lainnya meninggalkan kota Mekah menuju kampung halaman masing-masing. Di tengah perjalanan, saat tiba di suatu tempat persimpangan, Nabi SAW mendapat wahyu yang berbunyi,
Ya ayyuhar rasul balligh ma unzila ilaika….
Artinya, Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan dari Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau sampaikan, berarti engkau sama saja tidak pernah menyampaikan risalahNya. Allah melindungimu dari umat manusia.
Nabi lantas memerintahkan rombongannya untuk berhenti di suatu tempat bernama Ghadir Khum. Mereka yang sudah lewat diperintahkan untuk kembali dan mereka yang belum sampai ditunggu kedatangannya. Ada satu hal penting yang ingin beliau sampaikan kepada umat. Hari itu adalah tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 hijriyah.
Ketika semua orang telah berkumpul, Nabi SAW berdiri di hadapan para sahabatnya yang menyemut memenuhi padang tandus Ghadir Khum. Beliau ingin menyampaikan sebuah pesan penting dari Tuhan. Setelah mengucapkan puji-pujian syukur kepada Allah swt dan menyampaikan beberapa hal, beliau bersabda, “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya pula.”
Sabda Nabi SAW ini didengar langsung oeh sekitar seratus ribu muslimin di Ghadir Khum. Pesan penting ini, memiliki arti bahwa Ali-lah yang akan menggantikan posisi Nabi sebagai pemimpin umat sepeninggal beliau. Karenanya, setelah menyampaikan pesan ini, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk membaiat Ali. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai peristiwa Ghadir Khum.

Pembersihan Jazirah Arabia dari kekuatan Yahudi dan penaklukan kota Mekah serta pembersihan Masjidil Haram dari sisa-sisa adat jahiliyah adalah hasil perjuangan Nabi SAW selama lebih dari 20 tahun menyebarkan agama Islam dan menyampaikan risalah kenabian terakhir ini. Sejak jatuhnya kota Mekah ke tangan umat Islam, kaum muslimin yang dahulu terusir dan terasing berubah menjadi sebuah kekuatan besar yang ditakuti oleh seluruh kabilah Arab. Bahkan Rumawi dan Persia yang merupakan dua kutub kekuatan saat itu sangat memperhitungkan kekuatan umat Islam.
Sepulangnya dari Hajjatul Wada’, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya agar bersiap-siap untuk menyerang pasukan Rumawi di wilayah Syam. Sama seperti perang Tabuk, beliau tidak memperkenankan siapapun juga untuk tidak menyertai pasukan ini kecuali beberapa orang yang beliau tentukan. Panji perang diberikan Rasulullah kepada Usamah bin Zaid yang saat itu masih berusia 17 tahun. Pemilihan Usamah sebagai komandan pasukan ditentang oleh banyak orang yang meragukan kemampuan pemuda ini. Rasulullah yang saat itu sedang sakit keras dengan tegas menyatakan bahwa Usamah layak untuk memimpin pasukan besar kaum muslimin.
Akibat penentangan itu, banyak orang yang terkesan lamban untuk menyertai pasukan besar ini, sampai akhirnya berita memburuknya kondisi kesehatan Nabi SAW sampai ke telinga para sahabatnya. Akhirnya, pada tanggal 28 Shafar tahun 11 hijriyah, Muhammad bin Abdillah, Rasul terakhir dan makhluk Allah yang paling mulia menerima kedatangan malaikat maut. Kepergian penghulu para nabi ini menjadi berita paling mengejutkan dan menyedihkan bagi umat Islam. Rasulullah pergi dari dunia yang fana ini menemui Sang Khalik, setelah menyempurnakan misi risalah kenabian.


testing

Followers

Follow by Email

Other WidGet